Home » » Airmata Beras 01

Airmata Beras 01

Airmata Beras


Lelaki itu bersiap-siap pergi ke sawah. Beberapa hari ini ia tidak bisa menderes pohon karet karena hujan yang kembali menyapa bumi. Jika musim penghujan seperti ini, perekonomian penduduk pun akan semakin melemah. Mereka tidak akan dapat menaruh harapan pada pohon-pohon karet yang kedinginan di bawah guyuran hujan. Mereka hanya bisa berharap pada bulir-bulir padi agar cepat menguning dan bisa dipanen.
“Bang uang yang kita simpan sudah habis. Beras yang akan dimasak pagi ini merupakan beras terakhir kita”  ujar Aminah kepada suaminya.
“Iya istriku, abang paham”
Perempuan itu terdiam sejenak mendengar jawaban Hasan.
“Nanti sore kita mau makan apa Bang ?”
“Abang juga tidak tahu lagi harus berbuat apa Aminah. Mungkin kita terpaksa harus berhutang beras lagi di kedai Pak Roni”
 Hasan pergi menyusuri pagi yang dingin. Rerumputan di jalan setapak yang ia lalui tampak masih enggan bangun dari peraduannya. Dinginnya udara tidak menyurutkan lelaki itu untuk menjalani ketidakpastian hidup. Tubuhnya mencoba menerobos kesenyapan pagi.

***

Perempuan itu melewati jalan setapak yang telah dilalui suaminya tadi pagi. Langkah kaki gontainya serentak dengan langkah kaki mentari yang semakin menggelincir ke atas ubun-ubun. Di tangan kanannya ada jinjingan rantang berisi nasi yang ia masak tadi pagi. Nasi itu ia masak dengan penuh kasih sayang bercampur rasa kecemasan hidup.

Bersambung.....

0 comments:

Berlangganan Kampedia Gratis

Terpopuler di Kampedia

Kirim Pesan ke Kampedia

Name

Email *

Message *

Online