Home » » Airmata Beras 02

Airmata Beras 02


“Abang sarapan dulu” sahut Aminah dari gubuk kepada suaminya yang sedang bekerja di tengah pematangan sawah.
“Iya Aminah, tunggu di gubuk saja sebentar lagi abang datang”
“Tidak baik menunda sarapan Bang. Nanti sakit. Waktu berangkat tadi abang belum sarapan” jawab Aminah penuh harap agar suaminya secepatnya datang ke gubuk.
“Baiklah, abang akan datang”
Aminah memandangi raut wajah suaminya yang sedang sarapan. Walaupun tidak seperti sajian masakan di rumah makan, namun ia tahu suaminya itu sangat suka dengan apa yang ia persembahkan. Makanan yang ia masak memang sederhana, namun jika disantap dengan penuh perasaan dan rasa syukur, niscaya makanan itu akan terasa enak. Ukuran enak itu tidak selamanya berada pada makanan yang disajikan, namun lebih sering pada hati yang merasakan dan memakannya.
“Aminah, kenapa kau memandangiku seperti itu ?”
“Tidak Bang, Saya hanya senang saja melihat abang makan dengan lahap”
“Abang suka masakanmu. Sangat enak, melebihi masakan seorang chef[1] restoran ternama”
“Abang menggombal. Abang pernah makan di restoran ?”
“Tidak juga sih, abang tahu masakan restoran itu enak karena cerita teman yang pernah ke sana aja. Hehe…”
Aminah manyun mendengar gurauan suaminya.
“Aminah, nanti kamu duluan saja pulang ke rumah. Jangan lupa pergi ke kedai Pak Roni tuk berhutang beras, bilang abang yang suruh”
“Iya Bang”
***

Bersambung.....




[1] Orang yang ahli memasak dan meracik makanan

0 comments:

Berlangganan Kampedia Gratis

Terpopuler di Kampedia

Kirim Pesan ke Kampedia

Name

Email *

Message *

Online