Home » » Hutang Ayah 01

Hutang Ayah 01

Hutang Ayah



Lelaki berperawakan tegap itu berjalan menyusuri malam. Seolah besok tidak ada lagi siang. Langkahnya gontai. Hentak kakinya mengarah ke rumah di sudut kampung itu. Ia menuju ke sebuah rumah panggung.
“Assalamu ‘alaikum”
Walaikum salam. Silahkan masuk”
“Iya Hasan, tadi siang saya datang ke sini namun kamu sedang di sawah kata anakmu ?”
“Iya Jalandit, Dayat sudah memberi tahu kalau tadi kamu datang. Maaf ya saya tadi sudah ada niat untuk menemuimu tapi kamu sudah terlanjur datang duluan ke sini”
“Iya, tidak  masalah. Saya juga kebetulan mau ke kedai, makanya saya sempatkan singgah di rumahmu ini. Begini Hasan, saya sekarang lagi butuh uang. Anak saya mau membeli keperluan sekolah, jadi maksud saya ke sini ingin meminta uang yang kamu pinjam tempo hari”
“Iya Jalandit saya paham. Tapi, mungkin besok baru bisa saya bayar, saya usahakan dulu besok untuk berhutang ke uwak Dayat. Insyaallah besok saya antar ke rumahmu. Jalandit harap maklum karena sekarang lagi musim penghujan”
“Iya saya maklum. Kalau begitu besok saya tunggu di rumah”
“Iya Jalandit. Maaf sebesar-besarnya ya”
“Iya tidak apa-apa”

Setelah Jalandit pulang dari rumahnya, Hasan merasa pusing. Kepalanya seolah ditusuk dengan paku-paku tajam. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia sudah merasa malu meminjam uang tuk ke sekian kalinya kepada uwak Dayat, abang kandungnya itu. 

Bersambung.....
(Baca Sambungan: Hutang Ayah 02)

0 comments:

Berlangganan Kampedia Gratis

Terpopuler di Kampedia

Kirim Pesan ke Kampedia

Name

Email *

Message *

Online