Home » » Sawah 03

Sawah 03


“Dayat… Sedang apa Nak ?” ujar Hasan, tiba-tiba muncul dari arah timur.
“Cuma duduk-duduk aja Yah. Ayah sudah pulang ?”
“Iya, ayah sudah pulang dari ladang”
“Kok tidak makan Nak ?”
“Dayat tidak lapar lagi Yah, tadi sudah makan di rumah”
“O”
“Iya Bang. Katanya, Dayat sudah kenyang” sahut Aminah.
“Abang sudah makan ?”
“Sudah tadi di rumah”
“O. Kenapa tidak istirahat di rumah dulu Bang, agar tidak terlalu lelah ?”
“Tidak Aminah, abang tidak lelah kok”
“Jangan dipaksakan Bang, itu tidak baik”
Dayat terdiam mendengarkan percakapan kedua orangtuanya. Ia pandangi wajah ayahnya. Garis-garis kerut di kening lelaki tangguh itu mengisyaratkan rasa letih yang bersangatan. Ingin sekali Dayat mengurut punggung ayahnya yang sedang kelelahan itu, namun ia tidak berani mengungkapkannya. Ia tahu, lelaki itu sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan rasa letihnya di hadapan istri dan anaknya.
“Gimana tadi sekolahnya Nak ?”
“Sangat menyenangkan Yah. Tadi Dayat sudah mulai belajar Matematika. Selain itu Dayat juga sekarang punya guru dan teman baru”
“Benarkah ?”
“Iya Yah. Dayat sekarang sudah punya teman baru, namanya Rahman. Ibunya adalah seorang guru di sekolah itu”

“Baiklah Nak. Yang penting Dayat harus sekolah yang rajin agar kelak bisa jadi orang sukses. Jangan seperti ayah dan emak lagi, sekolah SD saja tidak sampai  tammat”

Bersambung.....

0 comments:

Berlangganan Kampedia Gratis

Terpopuler di Kampedia

Kirim Pesan ke Kampedia

Name

Email *

Message *

Online